Total Tayangan Laman

Rabu, 21 April 2010

Penjelasan (2) Makna syahadatain : Allah yang disembah, juga tempat menyembah

“Hamba Bersaksi bahwasanya Tidak ada tuhan melainkan Allah, Tuhan yang hamba sembah serta tempat hamba menyembah,”.

Tuhan yang berhak disembah hanyalah Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa. Tunggal tidak berbilang baik dzatnya maupun sifatnya. Semua yang ada pada Allah berbeda dengan mahluknya. Kaum muslimin menyembah Allah dengan seyakin-yakinnya. Mengapa? Karena Tuhan yang disembahnya adalah ghaib. Keyakinan pada yang ghaib sesuai rukun Iman, inilah yang menjadi faktor penentu adanya dimenasi ruhiyah seorang hamba kepada Allah juga hal-hal ghaib lainnya. Dalam ilmu Tauhid hal semacam itu disebut ‘aalamul mughayyabat. Manusia dianggap tidak beriman, jika tidak meyakini hal-hal tersebut.

Dengan demikian ibadah juga harus dipahami dan dilaksanakan dengan melibatkan aspek badaniyah/lahiriah (fhisik) juga aspek ruhiyah / bathiniyah (jiwa). Misalnya Shalat, jika dilaksanakan hanya dengan keterlibatan aspek lahir, maka shalat dianggap tidak sempurna. Meskipun secara aturan fiqh syah dan baik, tapi Allah hanya memberikan penilaian terhadap shalat yang dilakukan secara ikhlas dan khusyu. Kedua aspek ini sesungguhnya telah masuk aspek bathiniyah, sesuatu yang kurang proporsional dibahas terutama dalam ilmu Fiqh. Dalam shalat, khusyu merupakan puncaknya ibadah Shalat itu sendiri. Karena itu jika shalat adalah mi’raznya orang beriman maka ia benar-benar akan menjadi kenyataan, jika pelaksanaan shalat tidak melulu dilihat dari aspek gerakan ritual lahiriah semata.

Shalat yang bertumpu pada aspek lahiriyah, seolah-olah hanya ritual tanpa substansi, wadah tanpa isi, gerak tanpa jiwa. Kenyataannya, kualitas shalat semacam ini seringkali tidak membuahkan apa-apa bagi pendewasaan moralitas si pelakunya. Buktinya, banyak orang shalat tapi tetap melakukan kebohongan dan memelihara kemunafikan. Korupsi tetap berlanjut, padahal shalatnya dilakukan dan telah memenuhi prosedur ilmu sya’riat. Hal inilah yang oleh Allah disebut sebagaai orang yang celaka : Celakalah, orang yang shalat! (waylul lil mushaliin) karena shalatnya ternyata tidak berhasil mencegah perbuatan keji dan munkar.

Karenanya, memperkuat perspektif makna bathiniyah dalam ibadah hendaknya juga dilakukana pada puasa, zakat, haji dan ibadah mahdah lainnya. Agar kualitas ibadah kita dihadapan Allah semakin meningkat sementara itu amaliyah sosial berjalan seiring sesuai kehendak firman itu sendiri.


Allah SWT, adalah Tempat Menyembah. Maksudnya Tuhan yang disembah adalah Allah, Tempat menyembahnya, juga Allah. Allah ada, dimanapun kita berada, sepanjang kita meyakini dan mengikrarkan keberadaan Allah itu sendiri dengan semua resiko-resikonya. Masjid adalah tempat beribadahnya kaum muslimin, itu benar. Dijamin sebagai tempat yang bersih dan memang diperuntukkan hanya untuk beribadah. Tapi betulkah Allah SWT ada di dalam mesjid sehingga tempat menyembah Allah-nya berarti di masjid? Jawabannya, belum tentu. Allah ada di masjid! karena itu kita menyembah Allah di masjid. Bisa ya bisa tidak. Ya, karena masjid sebagai tempat menyembah Allah, dan saat menyembah itulah, Tuhan Maha Kuasa, “nur” Allah dan nur Muhammad ada hadir dalam jiwa kita. Fhisik secara lahiriyah, shalat. Bathin juga berkomunikasi dengan Allah saat shalat. Maka Allah ada dan hadir dalam jiwa kita saat itu di tempat tersebut.

Persoalnnya sekarang, walaupun kita shalat di mesjid, di tempat yang hanya untuk ibadah, tetapi karena Allah tidak hadir didalam pikiran dan jiwa, saat shalat, pikiran dan hati melayang mengingat hal-hal lainnya, maka hakikatnya, Allah tidak ada saat itu, meskipun kita melaksanakannya di dalam mesjid. Lalu di manakah, tempat menyembah Allah SWT ?

Kembali ke statmen dalam persaksian Syahadatain, bahwa : "Tempat menyembah adalah Allah. Artinya, dengan tetap mempertimbangkan aspek kebersihan dan kesucian tempat, kita bisa menyembah Allah dimana saja, kapan saja. Dzikir tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Arah Qiblat atau menghadap kiblat dalam pelaksanaan shalat selain merupakan tatacara yang telah ditentukan, juga dipahami sebagai simbol persatuan dan kesatuan seluruh ummat Islam se dunia. Membanggakan, menakjubkan karena Islam memiliki kesamaan simbol yang bahkan bersifat internasional.

Jadi, sekali lagi, kita tetap melaksanakan shalat dan tetap menghadap kiblat meskipun saat itu berada di dalam kendaraan, atau pesawat terbang yang padahal secara phisik kendaraan yang kita tumpangi itu belum tentu menghadap kiblat!

Sahabat, kita bisa jadikan hamparan bumi Allah yang luas ini juga sebagai masjid. Karena kesaksian kaum muslimin yang beriman adalah : Hamba Bersaksi bahwasanya tidak Tuhan melainkan Allah Tuhan yang hamba sembah serta tempat hamba menyembah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar